BOJONEGORO – Ketinggian air Bengawan Solo di Bojonegoro kemungkinan masih di atas 15 dari permukaan laut (dpl) selama tiga hari ke depan.
Menurut Moelyono, koordinator Pengamanan dan Pengendalian Bengawan Solo Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah (BPSAW) Bengawan Solo di Bojonegoro, meski ketinggian air di Karangnoko, Ngraho menurun, di Kota Ledre ini ketinggian air masih berada di siaga II. Itu terjadi karena penuhnya air di sembilan anak kali Bengawan Solo di Bojonegoro. Di antaranya, kali Gandong, Ganggang, Kedung Bajul, Karang Pacal, dan Besuki. “Akibat hujan deras yang turun di wilayah selatan Bojonegoro,” tuturnya.
Berdasarkan data dari papan duga Bengawan Solo di Karangnongko, sekitar pukul 06.00 kemarin ketinggian air 28,58 dpl. Sekitar pukul 17.00, ketinggian air turun menjadi 28,35 dpl.
Sementara papan duga Bojonegoro hingga pukul 14.00 sempat menunjukkan angka stabil di kisaran 15.12 dpl (siaga II). Pada pukul 15.00 hingga pukul 17.00, ketinggian air turun sedikit menjadi 15.10 dpl.
Untuk kondisi air di Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, berdasarkan data dari BPSAW Bengawan Solo di Bojonegoro, sedikit menurun. Jika Sabtu petang lalu, berada pada elevasi 135,97 meter (m), maka kemarin pukul 18.00 menunjukkan angka 135,89. Elevasi tertinggi status normal di waduk ini adalah 136 m. Pengeluaran air waduk ini untuk turbin pembangkit listrik 45 m3 per detik, sedangkan yang melalui spillway 100 m3 per detik.
Sementara Kali Jurug, Solo, pada pukul 18.00 di bawah siaga I dengan elevasi 6,5 m. Sedangkan di Dungus, Ngawi, papan duga menunjukkan angka 8 m (siaga II). Air dari Dungus sampai ke Karangnoko membutuhkan waktu sekitar delapan jam dan ditambah sepuluh jam lagi untuk sampai ke Bojonegoro. “Kami hanya khawatir saat (air) Bojonegoro belum turun, air dari Solo yang sudah sampai di Dungus, ke Bojonegoro,” kata Moelyono.
Menurut dia, ketinggian air di Bojonegoro saat ini juga dipengaruhi adanya air bingung di jebolan tanggul di Kecamatan Widang, Tuban. Air tersebut berputar kembali ke arah Bengawan Solo di sekitar Jabung. “Dangkalnya sudetan juga membuat lambatnya (air) permukaan Bengawan Solo turun. Sehingga airnya mengalir tidak lancar,” katanya
Sementara itu, banjir di wilayah barat Bojonegoro seperti di Kecamatan Margomulyo, Ngraho, dan Padangan, kemarin siang sudah surut. Namun, siang ini kemungkinan akan tergenang lagi karena air kiriman dari Dungus.
Ketinggian air di angka 15 dpl itu membuat puluhan desa di beberapa kecamatan masih kebanjiran. Di Desa Ngablak, Kecamatan Dander, misalnya. Sebagian warga memilih mengungsi dengan menempati tenda darurat yang mereka dirikan di sekitar tanggul setempat.
“Banjir diperkirakan naik terus, jadi kami mengungsi dulu sebelum banjir lebih besar lagi,” kata Sumardi, salah satu pengungsi.
Hal yang sama juga dilakukan warga Jalan Rajekwesi Bojonegoro. Mereka mulai mengungsi di Gedung Perak, Desa Jetak. Pengungsi yang berada di gedung itu sekitar 20 KK. Sekretaris Satlak PBP Pudjiono mengatakan bahwa hingga kemarin belum ada permintaan evakuasi warga. “Kalau bantuan makanan dan minuman kami siap untuk mendistribusikan kepada para pengungsi,” ujarnya.
Minta Bantuan Tenda
Sementara itu, banjir di Kecamatan Widang, Tuban, mengakibatkan proses belajar siswa terganggu. Seperti dialami siswa SD Temas. Karena gedung sekolahnya terendam air, mereka harus mengungsi belajar di rumah salah satu guru SD setempat di Desa Penidon, Plumpang.
Sementara siswa sekolah lain, ada yang belajar di tenda-tenda. Menurut Camat Widang Bambang Dwiyono, pihaknya telah mendapat tambahan kiriman tenda dari Kantor Sosial Tuban. Tenda tersebut tak hanya digunakan untuk menampung pengungsi. Namun, juga untuk aktivitas belajar siswa SDN Tegalrejo. Tenda bantuan itu bakal ditempatkan di lapangan Tegalrejo yang sampai sekarang masih terbebas dari banjir. Empat hari lalu, aktivitas belajar siswa MI Tegalrejo juga dipindahkan ke tenda yang berada di lapangan setempat. “Tendanya sudah datang dan hari ini (kemarin, Red) rencana pemasangannya akan dibantu teman-teman dari Koramil (Widang),” tutur Bambang ketika dikonfirmasi kemarin pagi.
Sementara itu, ketinggian air masih terus naik. Ketinggian air di pemukiman warga dekat tanggul Tegalrejo yang masih jebol, misalnya di Dusun Baturan, Panderejo, Gilis, dan Mejeruk, mencapai 2 meter. Meski demikian, sebagian warga nekad bertahan dengan membuat andang di atas rumahnya. “Kami sekarang sudah nggak bisa apa-apa dan hanya berharap bantuan lancar. Karena warga sudah hampir tiga bulan nganggur,” ujar Bukhori, salah satu warga Desa Simorejo.
Sementara korban banjir di Kecamatan Laren, Lamongan banyak yang terjangkit penyakit gatal-gatal. “Hari ini (kemarin, Red) dilakukan pengobatan masal di lokasi pengungsian di Desa Gelap. Berdasarkan laporan dari petugas medis di lapangan, warga yang berobat paling banyak terkena gatal-gatal,” kata Camat Laren, Rusgianto kepada Radar Bojonegoro kemarin.
Menurut dia, di lokasi pengungsian Desa Gelap, pihaknya menempatkan empat tim tenaga medis. “Sampai hari ini (kemarin,Red) persediaan obat-obatan masih cukup,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, ketinggian banjir di wilayahnya masih terus naik sejak Jumat lalu. “Meski tidak setinggi banjir pertama awal tahun lalu,” ujarnya.
Menurut dia, karena tanggul Tegalrejo di Kecamatan Widang yang jebol belum bisa diperbaiki, harapan untuk surutnya banjir di Laren dalam waktu dekat sulit terwujud. (ade/nas/wid/feb)
Comment